Menjadi bagian dari BAKOMSUS (Bintara Kompetensi Khusus) Tenaga Kesehatan POLRI merupakan impian banyak tenaga medis yang ingin mengabdikan diri tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga pada institusi kepolisian yang menjunjung tinggi disiplin dan dedikasi. Jalur ini membuka peluang bagi perawat, bidan, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya untuk berperan langsung dalam menjaga kesehatan anggota POLRI serta mendukung berbagai operasi kemanusiaan dan tugas lapangan. Namun, sebelum dapat bergabung, para calon peserta harus melalui serangkaian seleksi ketat—mulai dari administrasi, kesehatan, psikotes, hingga tes akademik dan kompetensi bidang kesehatan yang menuntut pemahaman mendalam serta ketepatan berpikir cepat di bawah tekanan.
Dalam menghadapi ujian tersebut, memahami kisi-kisi dan bentuk soal BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI menjadi langkah kunci untuk mempersiapkan diri secara optimal. Kisi-kisi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengetahuan umum kedokteran atau keperawatan, etika profesi, anatomi, hingga dasar-dasar hukum dan kedisiplinan dalam konteks kepolisian. Artikel ini akan membahas secara lengkap contoh-contoh soal BAKOMSUS Tenaga Kesehatan beserta pembahasannya, agar kamu dapat memahami pola soal, mengasah logika, dan memperkuat kesiapan menghadapi seleksi sebenarnya dengan lebih percaya diri dan terarah.

Kisi-kisi Soal BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI
Berikut kisi-kisi Soal BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI beserta penjelasan singkat pada tiap poin:
1. Pengetahuan Umum Kesehatan
Penjelasan:
Menguji wawasan dasar calon peserta terkait ilmu kesehatan secara umum. Materi meliputi sistem tubuh manusia, anatomi, fisiologi, farmakologi dasar, dan prinsip kerja alat kesehatan. Peserta diharapkan memahami konsep medis yang sering diterapkan di lapangan maupun pelayanan klinis dasar.
2. Etika dan Hukum Kesehatan
Penjelasan:
Menilai pemahaman peserta terhadap kode etik tenaga kesehatan, tanggung jawab profesional, serta dasar hukum praktik medis di lingkungan POLRI. Termasuk di dalamnya adalah kerahasiaan pasien, persetujuan tindakan medis (informed consent), dan etika pelayanan dalam situasi darurat atau operasi kepolisian.
3. Kesehatan Lapangan dan Gawat Darurat
Penjelasan:
Fokus pada kemampuan peserta dalam menangani kondisi gawat darurat medis di lapangan, seperti resusitasi, pendarahan, trauma, atau kondisi ekstrem saat tugas operasi. Ditekankan pada kemampuan mengambil keputusan cepat, penggunaan peralatan darurat, dan manajemen korban massal.
4. Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan Penyakit
Penjelasan:
Mengukur pemahaman calon anggota terhadap kesehatan masyarakat, sanitasi, pencegahan infeksi, serta pengendalian penyakit menular. Materi ini penting karena tenaga kesehatan POLRI sering bertugas di lokasi dengan kondisi lingkungan yang beragam dan berisiko tinggi.
5. Farmakologi dan Pemberian Obat
Penjelasan:
Menilai kemampuan mengenali jenis-jenis obat, dosis, indikasi, kontraindikasi, dan efek sampingnya. Soal sering menguji ketepatan dalam memberikan obat di situasi lapangan, termasuk pengetahuan dasar tentang logistik obat dan penyimpanan yang aman.
6. Administrasi dan Manajemen Kesehatan POLRI
Penjelasan:
Menguji pemahaman tentang sistem administrasi kesehatan di lingkungan POLRI, seperti pencatatan medis, pelaporan kejadian, serta koordinasi antarunit kesehatan dan kepolisian. Peserta juga perlu memahami prosedur pelayanan kepada anggota dan keluarga besar POLRI.
7. Pengetahuan Umum dan Wawasan Kebangsaan
Penjelasan:
Mencakup Pancasila, UUD 1945, NKRI, sejarah nasional, serta wawasan kebangsaan dan bela negara. Tujuannya untuk memastikan calon anggota memiliki semangat nasionalisme tinggi dan kesetiaan terhadap institusi.
8. Psikologi dan Komunikasi Kesehatan
Penjelasan:
Menilai kemampuan peserta dalam berkomunikasi dengan pasien, anggota, dan masyarakat secara empatik serta profesional. Termasuk pemahaman tentang psikologi dasar pasien trauma, stres lapangan, dan pendekatan humanis dalam pelayanan medis.
Contoh Soal BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI + Pembahasan
Berikut contoh soal HOTS (pilihan ganda A–E) berdasarkan kisi-kisi BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI. Tiap soal disertai jawaban benar dan pembahasan mendalam tetapi ringkas — dirancang untuk menuntut analisis, sintesis, dan pengambilan keputusan klinis/etis yang matang.
Soal 1
Seorang anggota polisi terluka akibat kecelakaan kendaraan saat patroli; ia mengalami perdarahan ekstensif pada paha kanan dengan denyut nadi cepat (120x/menit), tekanan darah 90/60 mmHg, napas cepat, dan kulit pucat. Lokasi kejadian berada 20 menit dari fasilitas kesehatan. Tim lapangan hanya membawa perban tekan, penutup luka steril, dan oksigen portabel. Manakah tindakan berikut yang paling prioritas dan tepat untuk menstabilkan pasien di lapangan sambil menunggu evakuasi?
A. Mengisolasi pasien dari udara dingin, memberikan oksigen, menutup luka dengan perban steril longgar, dan membawa ke fasilitas terdekat.
B. Melakukan penekanan langsung pada sumber perdarahan, mengangkat tungkai ke posisi lebih tinggi, memberikan oksigen, dan mempersiapkan transportasi cepat.
C. Memberikan cairan kristaloid sebanyak 2 liter intravena di lapangan untuk mengembalikan tekanan darah sebelum evakuasi.
D. Memasang tourniquet proksimal pada paha kanan tanpa mencoba penekanan langsung, lalu segera evakuasi.
E. Menunggu tim medis lain datang untuk melakukan tindakan invasif, menjaga jalan napas, dan tidak melakukan intervensi pada perdarahan untuk menghindari komplikasi.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Pasien menunjukkan tanda syok hipovolemik (takikardia, hipotensi, pucat) akibat perdarahan eksternal pada ekstremitas. Prioritas di lapangan adalah kontrol perdarahan sumber utama (penekanan langsung) dan menjaga perfusi sambil mempercepat evakuasi — bukan pemberian cairan besar-besaran yang berisiko memperparah perdarahan tanpa kontrol sumber (C tidak tepat). Tourniquet (D) hanya dipertimbangkan ketika perdarahan tidak bisa dikontrol dengan penekanan langsung atau jika pendarahan sangat hebat; langsung memasang tourniquet tanpa upaya awal kurang tepat. Mengangkat tungkai dan pemberian oksigen membantu perfusi dan oksigenasi lokal sistemik; menutup luka longgar (A) tidak cukup untuk perdarahan hebat. Menunggu tanpa intervensi (E) berbahaya. Jadi B paling sesuai prinsip ABC (Airway—Breathing—Circulation) dan hemorrhage control di lapangan.
Soal 2
Seorang pasien anggota POLRI berusia 62 tahun dengan riwayat hipertensi terkontrol dan penyakit jantung iskemik datang ke pos kesehatan akibat reaksi alergi berat setelah terpapar sengatan serangga: gatal hebat, bintik kulit meluas, suara serak, dan tekanan darah menurun menjadi 85/55 mmHg. Staf di pos hanya memiliki epinefrin sediaan autoinjector (0.3 mg) dan antihistamin oral. Dalam situasi ini, langkah farmakologis paling tepat adalah:
A. Beri antihistamin oral segera karena gejala kulit dominan; observasi dan evakuasi jika memburuk.
B. Tidak memberi epinefrin karena pasien memiliki penyakit jantung iskemik; gunakan oksigen dan cairan kristaloid saja.
C. Suntikkan epinefrin intramuskular 0.3 mg segera, berikan oksigen, dan persiapkan evakuasi darurat ke rumah sakit.
D. Tunda epinefrin dan mulai kortikosteroid oral untuk mengurangi peradangan; jika tidak membaik, pertimbangkan epinefrin.
E. Gunakan epinefrin intravena dosis rendah karena pasien lebih aman dengan rute IV dibanding IM.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Kondisi menggambarkan anafilaksis (gejala kulit ± saluran napas + hipotensi). Epinefrin intramuskular (IM) dosis tunggal cepat adalah terapi utama dan menyelamatkan nyawa; adanya penyakit jantung iskemik bukan kontraindikasi absolut bila pasien mengalami anafilaksis yang mengancam jiwa — risiko tanpa epinefrin lebih besar. Oksigen dan cairan pendukung juga penting; antihistamin hanya sebagai terapi tambahan, tidak menggantikan epinefrin (A salah). Kortikosteroid (D) tidak berguna sebagai langkah awal menyelamatkan nyawa. Epinefrin IV (E) berisiko tinggi dan biasanya dikhususkan untuk pasien yang sangat termonitor; di pos lapangan IM adalah pilihan aman. Jadi C paling tepat.
Soal 3
Seorang anggota POLRI aktif yang terluka ringan menolak tindakan medis invasif di lapangan dengan alasan agamanya dan menolak tanda tangan formulir persetujuan tertulis. Namun kondisinya kemudian memburuk menjadi kondisi yang dapat mengancam nyawa dalam 10–15 menit jika tidak dilakukan intervensi sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa tetapi melanggar keinginannya. Sebagai tenaga kesehatan POLRI pada lokasi tugas, tindakan yang paling etis dan hukum adalah:
A. Menghormati penolakan awal dan tidak melakukan intervensi meskipun risiko kematian meningkat.
B. Menjelaskan kembali risiko dan manfaat secara singkat, mencoba mendapatkan persetujuan lisan, dan jika tetap menolak, tidak bertindak.
C. Jika bukti kuat menunjukkan pasien tidak mampu membuat keputusan rasional karena penurunan status kesadaran atau panik, lakukan intervensi darurat yang menyelamatkan nyawa tanpa persetujuan tertulis.
D. Menghubungi atasan polisi untuk meminta izin administratif sebelum melakukan tindakan tanpa persetujuan.
E. Menunggu keluarga atau perwakilan hukum pasien tiba untuk memberi persetujuan, lalu melakukan intervensi apabila disetujui.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Prinsip etika: otonomi pasien dihormati, tetapi ada pengecualian pada kondisi darurat ketika pasien tidak mampu membuat keputusan rasional atau kondisinya mengancam nyawa—doktrin implied consent (persetujuan tersirat) berlaku untuk tindakan menyelamatkan nyawa. Jika pasien benar-benar sadar, penolakan harus dihormati (A/B), namun jika bukti menunjukkan ketidakmampuan membuat keputusan rasional (mis. penurunan kesadaran, delirium, syok), tenaga kesehatan berwenang melakukan intervensi darurat tanpa persetujuan tertulis. Meminta izin atasan (D) atau menunggu keluarga (E) biasanya tidak memungkinkan dalam ancaman nyawa dan dapat melanggar kewajiban profesional untuk menyelamatkan pasien.
Soal 4
Di sebuah satuan, ditemukan pola kenaikan insiden infeksi nosokomial ringan di lingkungan ruang perawatan dinas—sumbernya diduga terkait praktik sterilisasi alat yang tidak konsisten dan pencatatan yang buruk. Anda ditugaskan merancang intervensi manajerial yang terukur dan paling efektif untuk menurunkan kejadian tersebut dalam 3 bulan sambil mempertahankan operasional tugas kepolisian. Pilih paket tindakan yang paling tepat.
A. Mengeluarkan memo perintah kepada semua petugas agar lebih hati-hati, tanpa perubahan prosedur tertulis.
B. Melakukan audit dua minggu sekali terhadap praktik sterilisasi dan memberi sanksi bagi yang melanggar tanpa pelatihan ulang.
C. Menyusun prosedur standar operasional (SOP) sterilisasi yang jelas, melaksanakan pelatihan singkat pada seluruh staf, dan menerapkan checklist harian + audit serta pencatatan insiden yang terstruktur.
D. Menutup sementara fasilitas perawatan dinas selama 3 bulan untuk rehabilitasi total proses sterilisasi agar tidak mengganggu tugas kepolisian.
E. Mengganti semua alat menjadi sekali pakai untuk menghilangkan kebutuhan sterilisasi tanpa mengubah sistem pencatatan.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Intervensi efektif untuk masalah kualitas biasanya memerlukan pendekatan sistemik: SOP yang jelas, pelatihan untuk mengubah perilaku, alat bantu (checklist) untuk kepatuhan, dan audit/pencatatan untuk monitoring dan perbaikan berkelanjutan. Memo tanpa SOP (A) tidak cukup. Audit dengan sanksi tanpa pendidikan (B) cenderung menimbulkan resistensi dan tidak berkelanjutan. Penutupan fasilitas (D) tidak praktis dan mengganggu tugas penting. Penggunaan alat sekali pakai (E) mungkin mengurangi risiko tetapi mahal dan bukan solusi menyeluruh tanpa manajemen proses dan pencatatan. Jadi paket C paling seimbang dan terukur.
Soal 5
Seorang anggota mengalami trauma psikologis setelah menyaksikan rekan gugur saat tugas. Ia menunjukkan gejala kecemasan intens, tidur terganggu, dan menghindari tugas tertentu namun tetap menolak cuti atau rujukan ke layanan kesehatan mental dengan alasan “harus kuat untuk tim”. Sebagai petugas kesehatan POLRI, strategi komunikasi dan rencana tindak lanjut paling efektif untuk membantu tanpa membuatnya merasa dilecehkan adalah:
A. Memaksa cuti dan merujuknya ke layanan kesehatan mental meskipun ia menolak, karena keselamatan mental lebih penting.
B. Mengabaikan gejala karena risiko stigma; fokus hanya pada pengobatan fisik bila diperlukan.
C. Menggunakan pendekatan empatik satu-satu (private), mengakui pengalaman traumatisnya, menawarkan opsi dukungan terukur (mis. konseling singkat di pos, peer support, dan rujukan sukarela), serta menjadwalkan follow-up yang disepakati bersama.
D. Memberikan nasihat umum “tetap sibuk agar lupa” dan menindaklanjuti hanya jika gejala berkembang menjadi gangguan besar.
E. Memaksa dia berbicara di depan tim agar mendapat dukungan kelompok dan mengurangi rasa malu.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Strategi paling etis dan efektif adalah pendekatan berbasis empati dan pilihan (patient-centered): membuka dialog privat, validasi perasaan, menawarkan berbagai tingkat dukungan yang bisa dipilih pasien (peer support, konseling singkat, rujukan sukarela), dan membuat rencana follow-up bersama. Memaksa (A/E) dapat meningkatkan resistensi dan stigma; mengabaikan (B/D) berisiko memperburuk kondisi. Memberi pilihan dan kontrol kembali ke individu meningkatkan kepatuhan dan outcome, sambil tetap menjaga kewajiban keselamatan.
Soal 6
Dalam sebuah operasi kemanusiaan di daerah pasca-banjir, tim kesehatan POLRI menemukan 20 anggota dan warga mengalami diare akut dengan gejala muntah, demam ringan, dan dehidrasi. Air bersih sulit didapat, dan generator listrik hanya aktif 4 jam per hari. Sebagai tenaga kesehatan lapangan, prioritas intervensi pencegahan penyakit menular yang paling efektif dilakukan segera adalah:
A. Menyediakan antibiotik massal untuk semua anggota agar tidak tertular.
B. Mendistribusikan oralit dan memberikan edukasi tentang cara merebus air sebelum digunakan.
C. Mensterilkan sumber air dengan klorin dan memastikan seluruh makanan dimasak matang.
D. Mengkarantina seluruh penderita dan menutup akses air sungai untuk umum.
E. Membuat laporan insiden ke komando pusat sambil menunggu bantuan logistik dari Dinas Kesehatan.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Dalam konteks krisis lingkungan, prioritas utama adalah memutus rantai penularan penyakit berbasis air. Penggunaan klorinasi air dan memastikan makanan matang adalah tindakan pencegahan yang paling langsung dan efektif untuk mencegah penyebaran diare infeksius seperti kolera atau E. coli. Antibiotik massal (A) tidak dianjurkan tanpa diagnosis pasti. Edukasi dan oralit (B) berguna, tetapi tidak mencegah sumber kontaminasi. Karantina (D) sulit diterapkan di lapangan, dan menunggu bantuan (E) memperlambat respons.
Soal 7
Seorang anggota kepolisian wanita mengalami pusing, cepat lelah, dan kulit tampak pucat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 8 g/dL, MCV rendah, dan ferritin menurun. Namun, pasien mengaku mengonsumsi suplemen zat besi rutin selama 2 bulan tanpa perbaikan. Dari data tersebut, penyebab paling mungkin dari kondisi pasien adalah:
A. Kekurangan asupan zat besi akibat diet rendah protein.
B. Anemia defisiensi besi sekunder akibat kehilangan darah kronik.
C. Gangguan penyerapan zat besi di usus akibat penyakit celiac atau gastritis.
D. Efek samping obat antihipertensi yang menghambat produksi eritrosit.
E. Anemia aplastik karena gangguan sumsum tulang.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Data menunjukkan defisiensi besi (MCV dan ferritin rendah), namun tidak membaik meski sudah mendapat suplemen zat besi. Hal ini menunjukkan bukan kekurangan asupan, melainkan gangguan absorpsi di saluran cerna — misalnya akibat gastritis kronik atau penyakit celiac. Kehilangan darah (B) bisa jadi penyebab defisiensi awal, tapi jika suplemen tidak efektif, maka absorpsi jadi masalah utama. Pilihan (A, D, E) tidak sesuai dengan gambaran laboratorium khas defisiensi besi.
Soal 8
Dalam tugas lapangan, seorang tenaga kesehatan POLRI menerima tekanan dari atasannya untuk menuliskan hasil pemeriksaan “normal” bagi salah satu anggota senior, padahal hasil sebenarnya menunjukkan hipertensi berat. Jika tenaga kesehatan tersebut mengikuti perintah tersebut, konsekuensi etis dan hukum yang paling relevan adalah:
A. Tidak ada konsekuensi karena ia hanya mengikuti perintah atasan.
B. Dapat dikenai sanksi etik dan hukum karena memalsukan data medis resmi.
C. Tidak melanggar hukum jika pasien sendiri menyetujui perubahan hasil.
D. Dapat dikenai sanksi administratif internal saja tanpa efek hukum.
E. Hanya dianggap pelanggaran moral, bukan pelanggaran hukum.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Memalsukan data medis termasuk pelanggaran berat terhadap etika profesi dan hukum pidana karena laporan medis merupakan dokumen hukum. Dalam sistem kepolisian, integritas data medis sangat penting untuk keselamatan tugas dan kelayakan operasional. Alasan “perintah atasan” tidak membebaskan tanggung jawab pribadi (asas individual responsibility). Maka tindakan itu dapat dikenai sanksi etik profesi dan hukum disiplin internal, bahkan pidana jika terbukti merugikan.
Soal 9
Dalam misi penanganan kecelakaan lalu lintas besar, terdapat 12 korban dengan kondisi bervariasi. Anda sebagai tenaga kesehatan pertama di tempat kejadian harus melakukan triase cepat. Salah satu korban tidak sadar, tidak bernapas, dan tidak ada denyut nadi setelah 1 menit upaya resusitasi dasar; sementara korban lain mengalami perdarahan hebat namun sadar dan masih responsif. Berdasarkan prinsip triase darurat, tindakan Anda adalah:
A. Melanjutkan resusitasi korban tak bernapas hingga tim tambahan tiba.
B. Menandai korban tak bernapas sebagai prioritas merah untuk perawatan segera.
C. Menghentikan resusitasi korban tak bernapas dan fokus pada korban lain yang masih memiliki tanda kehidupan.
D. Mengarahkan korban sadar untuk menolong korban tak sadar.
E. Mengangkut korban tak bernapas terlebih dahulu karena kondisinya paling berat.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Dalam situasi mass casualty incident, prinsip triase adalah memaksimalkan jumlah korban yang bisa diselamatkan. Korban tanpa tanda kehidupan setelah resusitasi awal dikategorikan expectant/black tag (tidak layak prioritas) agar sumber daya dialihkan ke korban dengan peluang hidup lebih tinggi. Jadi, keputusan menghentikan upaya dan fokus ke korban responsif (C) adalah langkah yang tepat dan profesional di lapangan.
Soal 10
Dalam konteks tugas tenaga kesehatan POLRI, implementasi nilai Tribrata dan Catur Prasetya bukan hanya dalam tindakan disiplin, tetapi juga dalam etika pelayanan kesehatan. Salah satu bentuk penerapan nilai “Mengutamakan kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan” dalam konteks medis adalah:
A. Menolak tugas medis di daerah konflik karena risiko tinggi bagi keselamatan diri.
B. Memberikan perawatan terlebih dahulu kepada anggota senior sebelum warga sipil karena status jabatan.
C. Melaksanakan pelayanan kesehatan bagi korban tanpa memandang latar belakang atau status sosial.
D. Menyimpan informasi medis anggota senior meskipun berpotensi membahayakan tim.
E. Mengutamakan istirahat pribadi ketika jumlah pasien melebihi kapasitas layanan.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Nilai dasar Tribrata dan Catur Prasetya menekankan pengabdian tanpa diskriminasi. Dalam pelayanan medis, bentuk konkret nilai ini adalah memberikan perawatan yang adil, profesional, dan tanpa pandang status sosial, pangkat, atau jabatan. Pilihan A, B, D, dan E menunjukkan kepentingan pribadi di atas tugas pelayanan publik, bertentangan dengan semangat pengabdian POLRI.
Soal 11
Seorang anggota POLRI muda sering mengalami kejang otot setelah latihan berat di cuaca panas. Pemeriksaan menunjukkan kadar natrium dan klorida serum menurun, sedangkan fungsi ginjal normal. Jika kondisi ini terus diabaikan, komplikasi serius yang paling mungkin terjadi adalah:
A. Gagal ginjal akut akibat dehidrasi berat.
B. Hipertermia dan gangguan kesadaran akibat ketidakseimbangan elektrolit.
C. Hipoglikemia karena kelelahan otot ekstrem.
D. Hipotensi kronik akibat dehidrasi jangka panjang.
E. Penurunan kadar kalium yang menyebabkan aritmia jantung.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Kejang otot dengan natrium rendah menunjukkan heat cramp akibat kehilangan elektrolit karena keringat berlebih. Bila tidak dikoreksi, ketidakseimbangan elektrolit dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau heat stroke (hipertermia berat) yang menyebabkan disfungsi sistem saraf pusat dan gangguan kesadaran. Fungsi ginjal masih normal, jadi gagal ginjal (A) belum terjadi.
Soal 12
Dalam kegiatan tugas pengamanan, ditemukan peningkatan kasus infeksi saluran napas akut (ISPA) di pos jaga tertutup dengan ventilasi minim. Setelah observasi, diketahui bahwa 60% anggota merokok di dalam ruangan. Sebagai tenaga kesehatan unit, strategi paling efektif dalam menurunkan angka kejadian ISPA adalah:
A. Melarang merokok di seluruh area dan memperbaiki ventilasi udara ruangan.
B. Membagikan masker kepada anggota setiap hari.
C. Menyemprotkan disinfektan ruangan setiap minggu.
D. Memberikan vitamin dan suplemen daya tahan tubuh.
E. Melakukan fogging dan penyemprotan anti-bakteri harian.
Jawaban benar: A
Pembahasan:
Masalah utama adalah polusi udara dalam ruangan dan ventilasi buruk. Solusi efektif adalah menghilangkan sumber iritasi (rokok) dan meningkatkan ventilasi. Pembagian masker (B) hanya bersifat proteksi pasif, tidak mengatasi akar masalah. Disinfektan atau fogging (C, E) tidak relevan untuk ISPA nonspesifik.
Soal 13
Seorang tenaga kesehatan POLRI mengetahui bahwa salah satu anggota memiliki penyakit menular kronis (HIV positif). Anggota tersebut tidak ingin status kesehatannya diketahui atasan karena takut dipindahkan tugas. Namun, ia juga bertugas dalam kegiatan lapangan dengan risiko luka terbuka. Tindakan paling etis yang harus dilakukan tenaga kesehatan adalah:
A. Melaporkan status HIV anggota tersebut kepada atasannya demi keamanan tim.
B. Menjaga kerahasiaan pasien dan tidak memberitahu siapa pun.
C. Melaporkan secara terbatas kepada petugas medis atasan dan memberi edukasi keselamatan kerja tanpa membuka identitas pasien secara luas.
D. Membiarkan anggota tersebut tetap bertugas tanpa tindakan apa pun.
E. Mengumumkan status tersebut dalam briefing tim agar semua waspada.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Etika medis mewajibkan menjaga kerahasiaan pasien, namun dalam konteks risiko kesehatan kerja kolektif, tenaga kesehatan dapat melakukan disclosure terbatas untuk keselamatan tim — dengan tetap menjaga privasi pasien. Jadi, hanya pihak berwenang secara medis yang boleh tahu, bukan seluruh anggota.
Soal 14
Seorang anggota menerima terapi antibiotik amoksisilin selama 10 hari karena infeksi saluran pernapasan. Pada hari ke-4, muncul ruam merah menyeluruh dan gatal hebat. Setelah dihentikan, infeksi belum sembuh. Antibiotik pengganti yang paling tepat diberikan adalah:
A. Cefadroxil
B. Erythromycin
C. Ciprofloxacin
D. Ampicillin
E. Penicillin G
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Reaksi alergi terhadap amoksisilin menandakan hipersensitivitas terhadap golongan beta-laktam (penisilin dan sefalosporin). Maka, eritromisin (makrolida) aman sebagai alternatif. Cefadroxil (A) dan ampisilin (D) masih dalam golongan yang sama, berisiko reaksi silang. Ciprofloxacin (C) bisa digunakan tetapi bukan lini pertama untuk infeksi saluran napas atas umum.
Soal 15
Dalam evaluasi pelayanan klinik POLRI, ditemukan bahwa sebagian besar laporan medis tidak lengkap dan terlambat dikirim ke pusat data. Setelah ditelusuri, penyebab utamanya adalah tenaga administrasi yang belum terlatih dalam sistem pelaporan digital baru. Sebagai penanggung jawab kesehatan unit, langkah manajerial yang paling tepat adalah:
A. Menegur staf administrasi secara resmi karena kelalaian.
B. Mengajukan permintaan tambahan personel agar pekerjaan lebih cepat.
C. Menyelenggarakan pelatihan singkat tentang sistem digital dan menetapkan target pelaporan dengan monitoring mingguan.
D. Menunda pelaporan hingga staf baru direkrut.
E. Mengalihkan tanggung jawab pelaporan kepada tenaga medis langsung.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Masalah utama adalah kurangnya kompetensi teknis, bukan kemauan. Solusi manajerial efektif adalah pendidikan (pelatihan) + sistem evaluasi terukur. Menegur tanpa pembinaan (A) tidak menyelesaikan akar masalah. Penambahan personel (B) tidak efisien jika masalah ada pada keterampilan. Jadi opsi (C) adalah langkah sistemik dan berkelanjutan.
Soal 16
Dalam operasi evakuasi korban longsor, Anda menjadi satu-satunya tenaga kesehatan di lokasi. Ada 5 korban dengan kondisi berbeda:
1️⃣ Tidak sadar, napas tidak ada, denyut nadi tidak teraba.
2️⃣ Luka terbuka di kaki, perdarahan aktif, masih sadar.
3️⃣ Luka ringan, dapat berjalan sendiri.
4️⃣ Sesak napas berat, masih responsif.
5️⃣ Tidak bisa bergerak karena nyeri punggung berat.
Urutan prioritas triase berdasarkan prinsip START (Simple Triage and Rapid Treatment) yang paling tepat adalah:
A. 4 – 2 – 5 – 3 – 1
B. 2 – 4 – 3 – 5 – 1
C. 4 – 2 – 1 – 5 – 3
D. 2 – 5 – 4 – 3 – 1
E. 3 – 2 – 5 – 4 – 1
Jawaban benar: A
Pembahasan:
Dalam sistem START, korban diklasifikasi berdasar tingkat urgensi:
- (4) Sesak berat → prioritas merah (immediate).
- (2) Luka dengan perdarahan aktif → merah (immediate) juga, tetapi sedikit di bawah korban dengan ancaman napas.
- (5) Nyeri berat, tapi stabil → kuning (delayed).
- (3) Luka ringan → hijau (minor).
- (1) Tanpa napas dan nadi → hitam (expectant).
Jadi urutan prioritas: 4 – 2 – 5 – 3 – 1.
Soal 17
Seorang anggota mendapat resep kombinasi obat: amlodipin untuk hipertensi, simvastatin untuk kolesterol, dan eritromisin karena infeksi paru. Dua hari kemudian, ia mengeluh nyeri otot hebat dan kelemahan ekstremitas bawah. Tindakan medis paling tepat adalah:
A. Memberikan analgesik dan meminta pasien melanjutkan obat seperti biasa.
B. Menghentikan sementara simvastatin dan mengganti antibiotik eritromisin dengan yang lain.
C. Mengganti amlodipin dengan obat antihipertensi lain.
D. Menurunkan dosis eritromisin menjadi setengah.
E. Melanjutkan semua obat sambil menunggu hasil laboratorium CK.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Eritromisin menghambat metabolisme simvastatin (via CYP3A4), sehingga meningkatkan risiko rhabdomiolisis (nyeri otot dan kelemahan). Penanganan: hentikan statin sementara dan ganti antibiotik agar tidak ada interaksi. Melanjutkan obat (A, E) berisiko fatal. Amlodipin tidak berperan (C).
Soal 18
Dalam pemeriksaan rekrutmen anggota POLRI, Anda menemukan seorang calon memiliki riwayat penyakit kronik ringan yang tidak berpotensi menular, namun ia memohon agar tidak dicantumkan dalam laporan agar lolos seleksi. Jika Anda menyetujui permintaannya, konsekuensi etik paling relevan adalah:
A. Tidak masalah karena penyakitnya tidak menular.
B. Termasuk pelanggaran prinsip keadilan dan kejujuran dalam profesi kesehatan.
C. Dapat dibenarkan karena menolong individu yang berpotensi berprestasi.
D. Tidak melanggar etika selama pasien menanggung risikonya sendiri.
E. Termasuk tindakan humanis karena mempertimbangkan masa depan pasien.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Menyembunyikan fakta medis berarti mengaburkan data resmi, melanggar prinsip veracity (kejujuran) dan justice (keadilan). Tenaga kesehatan wajib objektif tanpa memihak. Pilihan A, C, D, dan E menempatkan empati di atas integritas profesional, yang tidak sesuai dengan nilai etika kedinasan POLRI.
Soal 19
Seorang anggota POLRI yang baru pulang dari penugasan daerah konflik menunjukkan gejala: mudah marah, sulit tidur, sering mimpi buruk, dan merasa terancam walaupun dalam situasi aman. Pendekatan awal paling tepat untuk tenaga kesehatan adalah:
A. Menyarankan cuti panjang tanpa diskusi lebih lanjut.
B. Memberikan edukasi tentang stres pascatrauma dan menawarkan sesi konseling individu secara rahasia.
C. Menyarankan bergabung ke kegiatan fisik berat agar lebih sibuk.
D. Melaporkan ke atasan agar anggota tersebut diganti dari posnya.
E. Memberikan obat tidur sementara untuk mengurangi keluhan.
Jawaban benar: B
Pembahasan:
Gejala tersebut menggambarkan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Pendekatan awal harus berbasis edukasi, dukungan empatik, dan konseling psikologis rahasia, bukan paksaan atau pelaporan. Cuti (A) dan obat (E) hanya solusi sementara. Pendekatan seperti (B) meningkatkan trust dan efektivitas pemulihan.
Soal 20
Dalam tugas medis di wilayah konflik, seorang tenaga kesehatan POLRI diminta memberikan perawatan kepada warga sipil yang sebelumnya terlibat dalam demonstrasi menentang aparat. Menurut prinsip dasar Tribrata dan Catur Prasetya, tindakan yang paling sesuai adalah:
A. Menolak memberikan pertolongan karena pasien melawan aparat.
B. Memberikan perawatan seadanya tanpa prioritas karena alasan moral.
C. Memberikan pelayanan medis secara profesional tanpa diskriminasi terhadap siapa pun.
D. Meminta izin atasan sebelum memberikan pertolongan agar tidak menyalahi prosedur.
E. Menyerahkan penanganan pasien kepada tenaga kesehatan sipil.
Jawaban benar: C
Pembahasan:
Tribrata dan Catur Prasetya menekankan pelayanan kepada seluruh masyarakat secara adil dan berperikemanusiaan. Dalam konteks medis, hal itu berarti memberi pertolongan tanpa diskriminasi—bahkan kepada pihak yang berseberangan. Pilihan lain bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan netralitas POLRI.
Siap Latihan Soal Tes Akademik BAKOMSUS dengan Panduan yang Tepat?

Persiapkan diri menghadapi seleksi BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI dengan materi yang tepat. Dapatkan paket soal Tes Akademik dan Psikotes BAKOMSUS Tenaga Kesehatan POLRI yang disusun sesuai pola seleksi di casis.or.id. Soal disajikan terstruktur dan dilengkapi pembahasan terarah untuk membantu memahami cara pengerjaan yang tepat. Tersedia try out CBT dengan sistem dan durasi menyerupai tes resmi guna memantapkan kesiapan menghadapi seleksi BAKOMSUS.